Minggu, 26 Oktober 2014

Manusia dan Tanggung Jawab



I. MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB
            Bertanggung jawab menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
            Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
            Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain. Tanggung jawab timbul karena manusia itu hidup bermasyarakat dan manusia juga hidup dalam lingkungan alamnya. Manusia tidak boleh berbuat semaunya kepada manusia lain dan lingkungan sekitarnya karena manusia diciptakan untuk menciptakan keseimbangan, keserasian, dan kelarasan antara sesama manusia dan antara manusia dan lingkungannya.
            Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan kata lain setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka akan ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu.
            Tanggung jawab dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi si pembuat, ia harus menyadari akibat dari perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.
            Tanggung jawab adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.
            Tanggung jawab adalah cirri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya itu dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh dan meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

B. MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
            Tanggung jawab dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu:
a.       Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi agar dapat memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri.
Menurut sifat dasarnya, manusia adalah makhluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi yang berarti manusia tersebut mempunyai pendapatnya sendiri, perasaannya sendiri, dan angan-angannya sendiri. sebagai wujud dari pendapat, perasaan, dan angan-angannya itu manusia berbuat dan bertindak. Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

b.      Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil yang terdiri dari suami-istri, ayah-ibu, anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya karena tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Selain itu, tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh:
Seorang ibu yang mempunyai tiga orang anak dan suaminya telah meninggal oleh suatu sebab. Karena ia tidak mempunyai pekerjaan saat suaminya masih hidup maka demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri.
Ditinjau dari segi moral, hal ini tidak dapat diterima karena melacurkan diri termasuk tindakan yang terkutuk, tetapi dari segi tanggung jawab ia termasuk orang yang terpuji karena demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, ia rela berkorban menjadi manusia yang hina.

c.       Tanggung jawab terhadap masyarakat
Manusia adalah makhluk sosial yang berarti bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut dengan baik. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

d.      Tanggung jawab terhadap Bangsa/Negara
Setiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, dan bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma yang dibuat oleh Negara. Dengan begitu, manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri karena bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

e.       Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya dengan cara manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan tersebut manusia tetap tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan karena dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia tersebut kepada Tuhan sebagai penciptanya. Untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia perlu pengorbanan.
Contoh:
Seorang biarawati yang dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab ini ia berkorban tidak memenuhi kodratnya sebagai manusia untuk meneruskan keturunannya yang sebetulnya juga merupakan tanggung jawabnya sebagai makhluk Tuhan.
C. PENGABDIAN DAN PENGORBANAN
            Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
a.       Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat, ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.
Pengabdian pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apaila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
            Lain halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan sampai berhari-hari, itu bukanlah pengabdian, tetapi hanya bantuan saja.
            Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
            Pengabdian kepada agama atau kepada Tuhan dapat dilihat pada seorang biarawan dan biarawati yang mengabdi kepada Tuhannya dengan mencurahkan hampir seluruh waktu, pikiran, dan tenaganya untuk memuliakan Tuhan.
            Pengabdian kepada negara dan bangsa dapat terlihat dari seorang pegawai negeri yang bertugas menjaga mercusuar di pulau terpencil. Mereka bersunyi diri dalam mengabdikan diri demi keselamatan kapal yang lalu lalang.

b.      Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan. Pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan.
Pengorbanan dalam arti pemberian segala tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila kita membaca atau mendengarkan kotbah agama. Dari kisah para tokoh agama atau nabi, manusia memperoleh tauladan.
            Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas, tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
            Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan, sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, dan waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.
            Kesediaan seorang guru sekolah dasar yang ditempatkan di pelosok terpencil daerah transmigrasi adalah pengabdian yang menuntut pengorbanan. Dikatakan pengabdian karena ia mengajar tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat/bangsanya. Ia hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat. Pengorbanan yang ia berikan berupa tenaga, pikiran, dan waktu untuk kepentingan anak didiknya.
II. PENGALAMAN PRIBADI
            Bertanggung jawab adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Setiap manusia pasti mempunyai tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, terhadap masyarakat sekitar, dan juga terhadap Tuhan yang menciptakan dirinya.
            Sewaktu duduk di bangku SMA saya mengikuti ekstrakurikuler pecinta alam. Pada saat itu saya menjabat sebagai Humas atau Hubungan Masyarakat. Tugas saya adalah menginformasikan semua kegiatan dan rencana perjalanan ke seluruh anggota mulai dari angkatan yang pertama sampai angkatan yang terakhir. Dalam menginformasikan itu semua, biasanya saya dibantu oleh teman saya yang juga merupakan seorang anggota. Kami sebenarnya mempunyai tugas masing-masing, tetapi biasanya kami saling membantu agar kegiatan kami berjalan dengan lancar. Pengalaman saya tersebut merupakan contoh dari tanggung jawab yang terlihat dari sisi kepentingan pihak lain.
            Pada waktu saya kelas sebelas, saya serta teman sekelas saya sering dipanggil untuk menjadi paduan suara di kantor walikota Jakarta Pusat saat upacara. Kami berlatih dengan sungguh-sungguh karena kami merasa bahwa kami sudah diberikan kepercayaan dan kami harus bertanggung jawab atas kepercayaan itu dengan tampil dengan baik saat upacara berlangsung.
            Saya adalah seorang anak perempuan yang mempunyai kakak serta adik dan sedang berkuliah di salah satu universitas swata. Dari situ terlihat bahwa saya mempunyai tanggung jawab sebagai seorang anak, tanggung jawab sebagai seorang adik serta seorang kakak, dan tanggung jawab sebagai mahasiswi. Selain itu, saya juga mempunyai tanggung jawab terhadap Tuhan.
            Sebagai seorang anak, tanggung jawab saya adalah berbakti kepada orangtua saya. Saya harus patuh kepada orangtua saya dan menghormati mereka karena berkat merekalah saya bisa menjadi seorang yang seperti ini. Selain itu, saya juga harus menjaga nama baik keluarga agar kehidupan kami di dalam masyarakat berjalan dengan baik.
            Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang artinya selain mempunyai kakak, saya juga mempunyai adik. Dengan kata lain, saya mempunyai tanggung jawab sebagai seorang kakak sekaligus seorang adik. Tanggung jawab seorang kakak sudah pasti mengayomi dan menjaga adiknya. Selain itu, seorang kakak juga harus lebih sering mengalah kepada adiknya sebagai wujud asli dari pengorbanan yang merupakan salah satu wujud dari tanggung jawab. Tanggung jawab seorang adik adalah menghormati kakaknya.
            Sebagai seorang mahasiswi, tanggung jawab saya selain mengharumkan nama universitas tempat saya belajar, saya juga harus lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebagai seseorang yang bisa dikatakan mulai dewasa, kita harus lebih peduli terhadap masalah-masalah di negara kita demi membangun negara yang lebih baik lagi. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan usaha. Usaha yang saya lakukan adalah belajar dengan baik.
            Tanggung jawab saya lainnya adalah tanggung jawab terhadap Tuhan. Tanggung jawab saya sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah mensyukuri apa yang telah Ia berikan kepada saya, baik itu suatu masalah maupun suatu kesenangan. Saya juga harus menjalani perintah dan menjauhi segala larangan-Nya agar saya dapat memenuhi tanggung jawab saya sebagai makhluk ciptaan-Nya.
            Sebagai seorang muslim, saya bertanggung jawab untuk mematuhi segala perintah-Nya, salah satunya adalahmenjalankan shalat lima waktu, menjalankan puasa ramadhan pada bulan ramadhan, berbuat baik terhadap semua makhluk ciptaan-Nya, dan lain-lain.
            Bertanggung jawab terhadap diri sendiri dapat berupa selalu menjaga dan berbuat baik kepada diri kita, baik itu jasmani maupun rohani. Untuk menjaga tubuh saya agar tetap sehat, saya selalu meminum air putih secukupnya dan berolahraga dengan teratus. Saya biasanya olahraga tiga kali dalam seminggu. Untuk menjaga agar psikis saya tetap baik, saya selalu menyempatkan waktu untuk melakukan suatu kesenangan seperti berjalan-jalan ke mal, menonton film, dan mendengarkan musik.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Manusia dan Harapan



MANUSIA DAN HARAPAN
A.PENGERTIAN HARAPAN
Setiap manusia pasti mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun pasti mempunyai harapan yang biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing individunya. Seseorang yang mempunyai harapan yang berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak. Orang seperti itu seperti peribahasa “Si pungguk merindukan bulan”.
Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung dari usaha orang yang mempunyai harapan tersebut. Apabila ia berusaha dengan sungguh-sungguh maka harapan itu bisa terkabul, tetapi apabila ia tidak melakukan usaha sedikitpun maka harapan itu tidak akan terkabul.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan kepada diri sendiri maupun kepada Tuhan. Agar harapan dapat terwujud, diperlukan usaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Harapan berarti sesuatu yang diinginkan agar dapat terjadi. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi-tingginya.
Persamaan harapan dan cita-cita adalah:
·         Keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud
·         Pada umumnya dengan harapan dan cita-cita seseorang menginginkan hal yang lebih baik
B. SEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN
            Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Di tengah-tengah manusia lain itulah seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/spiritualnya. Dua hal yang mendorong seseorang hidup bergaul dengan manusia lain, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
DORONGAN KODRAT
            Kodrat adalah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, dan lain sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
            Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan. Contohnya adalah orang yang menonton pertunjukan lawak. Mereka ingin tertawa dan pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa maka harapan kedua belah pihak gagal.
            Kodrat juga terdapat pada binatang dan tumbuhan karena binatang dan tumbuhan juga perlu makan, berkembang biak, dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia adalah kodrat binatang yang walau bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaan antara manusia dan binatang adalah manusia memiliki budi dan kehendak. Budi ialah akal, kemampuan untuk memilih. Dengan budinya, manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan kehendaknya itulah manusia dapat memilih.
            Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul dan bermasyarakat dengan manusia lain. Dengan kodrat inilah manusia mempunyai harapan.
DORONGAN KEBUTUHAN HIDUP
            Kebutuhan hidup dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani misalnya makan, minum, sandang, pangan, papan, hiburan, ketenangan, dan keberhasilan.
            Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan kemampuan manusia yang sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah maupun kemampuan berpikirnya.
            Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan, yaitu keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
            Menurut Abraham Maslow, sesuai dengan kodratnya, harapan atau kebutuhan hidup manusia itu adalah:
a.       Kelangsungan hidup (survival)
b.      Keamanan (safety)
c.       Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d.      Diakui lingkungan (status)
e.       Perwujudan cita-cita (self actualization)
Kelangsungan Hidup (survival)
            Untuk kelangsungan hidupnya manusia membutuhkan sandang, pangan, dam papan. Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan itu manusia sejak kecil telah mulai belajar. Dengan pengetahuan yang tinggi dan kerja keras, harapan memperoleh pangan, sandang, dan papan yang layak akan terpenuhi.
Keamanan (safety)
            Setiap orang membutuhkan keamanan. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat member rasa aman. Dalam hal ini agama merupakan cara memperoleh keamanan moril bagi pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa Tuhan memberikan perlindungan berarti sudah memberikan keamanan yang diharapkan.
Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
            Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajibannya. Biasanya manusia mulai menyadari tentang hak dan kewajiban mencintai dan dicintai ketika mereka remaja atau beranjak dewasa.
Status
            Setiap manusia membutuhkan status. Status dalam keluarga, status dalam masyarakat, dan status dalam Negara. Status itu penting karena dengan status orang tahu siapa dia. Harga diri seseorang juga melekat pada status orang itu.
Perwujudan cita-cita
            Manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya, kepangkatannya, dan profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.
C. KEPERCAYAAN
            Kepercayaan berasal dari kata percaya yang berarti mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dasar kepercayaan adalah kebenaran.
Kebenaran
            Kebenaran atau benar sangat penting bagi manusia. Setiap orang mendambakannya karena ia mempunyai arti khusus bagi hidupnya.
            Dalam tingkah laku, ucapan, dan perbuatan, manusia selalu berhati-hati agar mereka tidak menyimpang dari kebenaran. Manusia sadar bahwa ketidakbenaran dalam bertindak, berucap, dan perbuatan dapat berakibat kegelisahan, ketidakpastian, dan kedukaan.
            Dr. Yuyun Suriasumantri dalam bukunya “filsafat ilmu, sebuah pengantar populer” ada tiga teori kebenaran, yaitu:
1.      Teori koherensi atau konsistensi, yaitu suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifat koherensi atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Contoh: Setiap manusia akan mati. Paul adalah manusia. Paul akan mati.
2.      Teori korespondensi, yaitu teori yang menjalankan bahwa suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Contoh: Jakarta itu ibukota republik Indonesia
3.      Teori pragmatis, yaitu kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
D. BERBAGAI KEPERCAYAAN DAN USAHA MENINGKATKANNYA
      Kepercayaan dapat dibedakan atas:
·         Kepercayaan kepada diri sendiri
Kepercayaan kepada diri sendiri harus ditanamkan pada setiap pribadi manusia karena pada hakekatnya percaya kepada diri sendiri merupakan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Percaya kepada diri sendiri seperti menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang dipercayakan kepadanya, dan lain-lain.
·         Kepercayaan kepada orang lain
Percaya kepada orang lain dapat berupa percaya kepada orangtua, saudara, guru, dan siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain sudah tentu percaya kepada kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya.
·         Kepercayaan kepada pemerintah
Terdapat dua pandangan tentang negara atau pemerintah. Menurut pandangan teokratis, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memimpin dan memerintah bangsa manusia. Menurut pandangan demokratis, rakyat adalah negara, rakyat itu menjelma pada negara. Dengan demikian manusia sebagai seorang (individu) tidak berarti.
Baik pandangan teokratis ataupun demokratis, negara atau pemerintah itu benar karena Tuhan adalah sumber kebenaran. Oleh karena itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara percaya kepada negara/pemerintah.
·         Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan itu sangat penting karena kepercayaan merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk meningkatkan rasa percaya kepada Tuhannya. Usaha itu bergantung pada pribadi kondisi, situasi, dan lingkungan. Usaha itu adalah:
a)      Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan meningkatkan ibadah
b)      Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat
c)      Meningkatkan kecintaan kita kepada sesama manusia dengan jalan suka menolong, dermawan, dan sebagainya
d)     Mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang berlebihan
e)      Menekan perasaan negatif seperti iri, dengki, fitnah, dan sebagainya.


PENGALAMAN PRIBADI
            Harapan adalah sesuatu yang diinginkan agar dapat terjadi. Setiap orang pasti mempunyai harapan karena dengan harapan itulah manusia dapat hidup dan berkembang menjadi orang yang lebih baik. Oleh karena itu, selagi kita masih hidup, kita harus membuat harapan-harapan dan berusaha untuk dapat mewujudkannya.
            Harapan dan cita-cita mempunyai persamaan, yaitu keduanya menyangkut masa depan dan membuat manusia tersebut mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik.
            Cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi seorang dokter, cita-cita favorit para anak kecil. Saya ingin menjadi dokter karena menurut saya dokter itu keren, memakai jas putih, membawa stetoskop, memakai kaca mata seperti orang pintar. Selain itu, mereka juga ramah dan juga dapat menyembuhkan orang sakit.
            Sewaktu kecil saya juga sempat bercita-cita untuk menjadi seorang astronaut. Akan tetapi, cita-cita itu tidak bertahan lama alias cita-cita sesaat. Selanjutnya saya juga sempat bercita-cita menjadi seorang psikolog. Menurut saya seorang psikolog itu adalah seorang yang mulia karena ia membantu orang-orang yang terbelit dalam masalah. Selain itu, seorang psikolog juga dapat mengetahui kapan orang itu berbohong dan kapan orang itu sungguhan, dan ia juga dapat mengetahui kepribadian seseorang hanya dengan mengamati orang tersebut, dan menurut saya itu semua…keren! Akan tetapi, kakak saya mengatakan kalau menjadi seorang psikolog itu biasanya hubungan keluarganya tidak baik, karena menurutnya seorang psikolog dapat membantu menyelesaikan masalah orang lain, tetapi untuk masalahnya sendiri ia tidak bisa. Setelah kakak saya berkata seperti itu, saya tidak ingin menjadi seorang psikolog lagi.
            Waktu terus berlalu hingga akhirnya saya menemukan profesi yang sampai saat ini masih saya cita-citakan, seorang arsitek. Alasan saya ingin menjadi arsitek adalah karena saya ingin membuat rumah yang sehat untuk kedua orangtua saya tempati pada masa tuanya nanti.
            Saat ini saya sedang berkuliah di salah satu universitas swasta jurusan teknik industri. Dengan demikian, saya harus mempunyai cita-cita yang baru, dan cita-cita baru saya adalah menjadi seorang wiraswasta yang sukses. Saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan agar masyarakat di sekitar saya bisa menjadi lebih sejahtera. Untuk mewujudkan cita-cita saya tersebut, mulai sekarang saya harus berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar dimudahkan oleh Tuhan.
            Berbeda dengan cita-cita, harapan saya tidak terlalu muluk. Saya ingin agar masyarakat Indonesia bisa lebih peduli lagi kepada lingkungannya, kepada alam yang telah memberikan banyak manfaat untuk kita semua.
            Dengan melakukan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu saat siang hari, dan menggunakan air sewajarnya menurut saya itu sudah lebih dari cukup untuk berterima kasih kepada alam.
            Untuk orang-orang di sekitar saya, saya berharap agar mereka selalu merasa bahagia walaupun dalam keadaan yang sulit sekalipun. Selalu sabar dalam menerima cobaan hidup. Selalu dimudahkan segala urusannya. Dan yang terakhir, selalu sehat agar kita semua bisa melewati semua itu bersama-sama.
            Untuk pemerintahan di Indonesia, saya harap bisa menjadi lebih baik lagi. Lebih bersih dalam bekerja. Lebih adil dan bijak dalam memutuskan suatu keputusan. Lebih peduli kepada masyarakat dan negaranya.
            Untuk kedua orangtua serta kakak dan adik saya, saya harap kita bisa menjadi keluarga yang lebih hangat dan bahagia. Untuk kakak serta adik saya, saya berharap agar masa depan kita cerah dan dapat membanggakan kedua orangtua. Dan untuk kedua orangtua saya, saya harap mereka selalu sehat dan panjang umur supaya mereka dapat melihat anak-anaknya sukses, aamiin.
            Yang terakhir, untuk diri saya sendiri. Saya berharap agar saya bisa menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Lebih rajin dan semangat untuk mewujudkan semua harapan dan cita-cita saya. Lebih menghargai waktu. Lebih dekat dengan Tuhan agar semua berjalan dengan lancar.